loading...

Cerpen : Malam Bersama Ungu Nan Gemas

Malam Bersama Ungu Nan Gemas
Julian Toni
Bergidik. Lalu cemberut. Mungkin wajah ini tampak memble bila bercermin kini. Oh my ..., apa yang kuperbuat.
Ibu semok itu mendesah gerah, setelah tembang Berlayar Di Awan dibawakan hancur si pengamen bus. Bersama intaian resah. Aku pelan menoleh kiri-kanan terus mengapit erat tas yang tersandang di dada. Mencari celah sebelah tangan memainkan jemari. Meraih sesuatu yang agak tersembul dari tas wanita berbody sehat di sebelahku.
Mengawasi sekitar, tunggu lengahnya dan langsung eksekusi. Lalu berlalu pergi membawa hasil rutinitas memalukan yang sudah sebulan kujalani. Rumah makan padang, ke sanalah mungkin tujuan selanjutnya. Mengakhiri segala debar was-was ini dengan santai sekaligus melepas lapar yang dari semalam meraja.
Sekarang ia membetulkan duduk, betulkan jilbab biru tua-nya. Lalu kembali memandang Hp, menuliskan sesuatu entah apa. Bias sinar layar yang memantul ke wajah memberitahukan kepadaku, di masa mudanya wanita yang kira-kira berusia 40tahun lebih ini pasti cantik sekali. Sesekali kucuri pandang perhatikan wajahnya, lalu entah kenapa mata ini malah menatap semakin turun ke bawah, jari-jari lincah yang menari di keypad itu seperti menggoda. Cincin emas antara sela-sela itu berapa gram kah, ya?
Mata kembali fokus menatap ke depan, memasang telinga pastikan amankah kondisi sekitar. Aku semakin merapat hingga jarak kami begitu dekat. Parfum apa yang ibu berpipi menggemaskan ini pakai? Apek-apek wangi kuciumi. Tapi aku segera tersadar, misi ini harus selesai sebelum dua pemberhentian bus lagi.
Aku tak ingat, kapan terakhir kali berkedip. Apalah. Asal mata dan tubuh mau saja mengikuti gerak mangsa, lenyap lenyaplah sudah pertanyaanku itu. Biar bisa mendapatkan ruang longgar di kejepitan aksi, membawanya dari tangan kiri ke genggam kanan. Lalu memasukan ke dalam baju dan turun dari bus ini. Aku tak sabar, bila separuh isinya nanti berganti nasi.
Berat, tubuh sebelah memberat ke arahku. Hai! Dia tertidur rupanya. Aha! Aku dimudahkan untuk segalanya. Ayolah, mengapa tak dari tadi saja kau terlelap, Bu. Hatiku senang, sekiranya semua peluang setan yang kuikuti semudah ini. Tentu ku beraksi tidak dengan debar mengiring selama ini.
Sejenak kudengar sayup dengkur halus, serasa panggilan, Ayoolah ..., ayoolaah untuk tuntaskan misi malam ini. Benda persegi panjang itu pun begitu lancar keluar dari tasnya mengikuti selip jariku. hingga kini ia aman dibalik baju.
Sempat menatap mata yang terpejam. Menikmati wajah cantik yang mulai memudar. Tapi tidak ..., itu tak pudar kurasa. Inilah kecantikan yang mulai matang itu, seperti buah apel merah tua bermerk California yang kumakan minggu lalu.
"Pinggir, Pak!"
Bus berhenti, aku berdiri untuk meninggalkan mangsa yang masih terlelap di bangku sebelah. Ingin ucapkan pamit dan katakan selamat tinggal padanya. Tapi tentu itu terlalu beresiko.
Maaf ibu yang berwajah manis, terima kasih untuk wajah yang menyenangkan dan dompet ungu yang mengemaskan. Seperti pipimu, yaa ..., pipimu.
End.

Silahkan Masukkan Email anda Untuk Update Fakta Lainnya:

0 Response to "Cerpen : Malam Bersama Ungu Nan Gemas"

Post a Comment

Tolong Jangan Melakukan SPAM ya.
KOMENTARLAH SESUAI ARTIKEL DI ATAS :)

TERIMA KASIH
ADMIN
INDRA SAPUTRA